Kesenjangan infrastruktur di wilayah Indonesia Timur masih menjadi tantangan besar bagi sektor agraria, terutama mengenai Kendala Logistik yang menyebabkan harga komoditas dari tingkat petani tidak kompetitif di pasar luas. Flores, dengan kontur tanah yang subur namun berbukit-bukit, sebenarnya memiliki potensi luar biasa dalam menghasilkan komoditas unggulan seperti kopi, kakao, dan kemiri. Namun, letak geografis lahan pertanian yang seringkali berada di pelosok pegunungan menciptakan hambatan besar dalam proses distribusi, di mana akses jalan yang rusak atau belum memadai membuat perjalanan dari kebun ke titik pengumpulan memakan waktu yang sangat lama dan biaya yang tidak sedikit.
Munculnya Kendala Logistik ini berdampak langsung pada biaya operasional yang harus ditanggung oleh para petani lokal. Karena minimnya akses kendaraan besar ke wilayah produksi, petani terpaksa menggunakan jasa angkutan skala kecil yang mematok harga tinggi karena risiko kerusakan kendaraan dan tingginya konsumsi bahan bakar di medan yang ekstrem. Hal ini menciptakan anomali pasar, di mana harga jual komoditas di tingkat petani sangat rendah untuk menutup biaya angkut, namun sampai di tangan konsumen akhir di luar pulau harganya menjadi sangat mahal. Margin keuntungan yang seharusnya dinikmati petani justru habis terserap oleh biaya rantai distribusi yang tidak efisien.
Selain masalah transportasi darat, Kendala Logistik di Flores juga berkaitan erat dengan ketergantungan pada transportasi laut dan ketersediaan ruang kargo yang terbatas. Pengiriman hasil bumi ke luar pulau seringkali terkendala jadwal kapal yang tidak menentu dan biaya sewa kontainer yang fluktuatif. Kondisi ini sangat merugikan bagi komoditas yang bersifat mudah rusak (perishable). Tanpa adanya fasilitas penyimpanan dingin (cold storage) yang memadai di pelabuhan-pelabuhan utama, kualitas produk pertanian Flores seringkali menurun sebelum sampai ke pelabuhan tujuan, yang pada akhirnya mengakibatkan harga jual produk jatuh di tingkat nasional maupun internasional.
Perlu adanya intervensi strategis dari pemerintah pusat dan daerah untuk memecahkan Kendala Logistik ini melalui pembangunan konektivitas yang terintegrasi. Perbaikan jalan desa dan pembangunan pelabuhan pengumpan yang lebih modern adalah langkah mendesak yang harus segera direalisasikan. Selain itu, pembentukan pusat-pusat logistik tani di setiap kabupaten dapat membantu mengonsolidasi hasil panen dalam jumlah besar, sehingga biaya angkut dapat ditekan melalui pengiriman kolektif.
