Tenun Ikat khas Suku Lio di Flores menggunakan teknik pengolahan warna berbasis bahan alami dari daun, akar, dan kulit kayu hutan. Para penenun perempuan menumbuk daun nila untuk warna biru, akar mengkudu untuk warna merah, serta kayu sepang untuk warna kuning kecokelatan. Proses pewarnaan alami ini bertujuan mempertahankan keaslian tradisi leluhur serta menghasilkan benang berkualitas tinggi yang ramah lingkungan. Benang kapas direndam berulang kali dalam ramuan herbal guna mendapatkan warna yang tahan lama.
Para wanita penenun meracik ramuan pewarna alami dalam kuali tanah besar sesuai dengan resep rahasia warisan nenek moyang suku Lio. Tenun Ikat alami membutuhkan waktu pengerjaan hingga berbulan-bulan karena proses pencelupan benang harus dilakukan secara bertahap di bawah sinar matahari. Penenun menyusun motif simbolis berestetika tinggi yang menceritakan keagungan alam dan sejarah leluhur masyarakat Flores pada helai benang. Ketelitian dan kesabaran penenun menghasilkan karya kain bernilai tinggi.
Para wisatawan domestik dan asing mengagumi keindahan serta keaslian kain warna alami yang diproduksi oleh para perempuan suku Lio ini. Tenun Ikat alami Flores menjadi buruan utama para kolektor kain tekstil dunia karena memiliki warna lembut yang tidak mudah pudar oleh waktu. Hasil penjualan kain tradisional ini berhasil menopang ekonomi keluarga penenun serta melestarikan warisan budaya takbenda Indonesia. Seni menenun tradisional terus hidup berkembang pesat di pemukiman warga.
Tokoh adat Suku Lio menegaskan bahwa penggunaan bahan ramah lingkungan merupakan bentuk penghormatan tinggi masyarakat adat terhadap kelestarian alam Flores. Pihaknya terus mengajak generasi muda perempuan untuk belajar menenun dan mengenali jenis-jenis tanaman obat pewarna benang di hutan. Pemerintah daerah memberikan dukungan berupa perlindungan hak cipta motif tenun serta fasilitasi pameran kerajinan di tingkat nasional. Budaya suku Lio terus memancar ke dunia.
Program pelestarian seni menenun warna alami ini akan terus didampingi oleh dinas kebudayaan guna menjaga keberlanjutan pasokan tanaman pewarna lokal. Pihak lembaga adat siap membuka sanggar belajar menenun bagi para wisatawan yang ingin mempelajari proses pembuatan kain dari awal. Sinergi antara kearifan lokal suku Lio, kelestarian hutan, dan promosi pariwisata mewujudkan pelestarian budaya yang kokoh. Flores bangga akan keindahan kain tenun warna alaminya.
