Budidaya buah naga di Indonesia memiliki potensi ekonomi yang besar, namun tantangan utamanya terletak pada pemeliharaan kualitas fisik buah. Para petani seringkali menghadapi kendala berupa bintik hitam atau busuk batang yang menurunkan nilai jual di pasar. Kunci utama untuk menghasilkan buah yang berkualitas tinggi terletak pada sistem Kendali Hama yang tepat.
Salah satu musuh utama petani adalah serangan kutu putih dan tungau yang mengisap nutrisi pada kulit buah muda. Serangan ini menyebabkan permukaan buah menjadi kusam, cacat, dan tidak memiliki warna merah yang merata saat panen. Oleh karena itu, menerapkan strategi Kendali Hama secara terpadu sejak fase pembungaan sangatlah krusial bagi petani.
Penyakit antraknosa yang disebabkan oleh jamur juga menjadi ancaman serius bagi kemulusan kulit buah naga di kelembapan tinggi. Jamur ini menciptakan bercak cokelat yang melebar dan merusak estetika visual buah yang seharusnya tampak segar merona. Penggunaan fungisida organik secara berkala merupakan bagian penting dari manajemen Kendali Hama dan penyakit yang efektif.
Kebersihan lahan atau sanitasi kebun memegang peranan vital dalam memutus siklus hidup serangga pengganggu yang bersembunyi di gulma. Batang yang sakit harus segera dipangkas dan dimusnahkan agar tidak menulari tanaman sehat lainnya di area sekitar. Kedisiplinan dalam menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk preventif dari Kendali Hama yang paling ekonomis dan berkelanjutan.
Pemberian nutrisi yang seimbang, terutama unsur kalium dan kalsium, sangat membantu mempertebal dinding sel kulit buah agar lebih tahan. Tanaman yang sehat memiliki sistem imun alami yang lebih kuat dalam menghadapi serangan organisme pengganggu tumbuhan setiap harinya. Nutrisi yang tepat memastikan buah naga tumbuh besar dengan warna merah yang sangat mencolok dan menarik.
Teknik pembungkusan buah atau brongsong juga menjadi metode fisik yang sangat ampuh untuk melindungi buah dari sengatan lalat buah. Lalat buah seringkali menyuntikkan telur ke dalam kulit buah, yang nantinya akan menyebabkan busuk dari dalam sebelum matang. Perlindungan fisik ini menjamin kulit buah tetap mulus tanpa cacat hingga sampai ke tangan konsumen.
Penggunaan agen hayati seperti jamur Beauveria bassiana kini mulai populer sebagai solusi ramah lingkungan bagi para petani modern. Metode biologis ini lebih aman bagi ekosistem dan tidak meninggalkan residu kimia berbahaya pada buah yang akan dikonsumsi. Inovasi dalam cara bertani akan menentukan keberhasilan jangka panjang dalam memproduksi buah naga kualitas ekspor.
